PERJALANAN MERAH PUTIH DI MANDAR

Oleh : Abd.Rajab Abduh(Berbagai Sumber)

Pengibaran bendera merah-putih dan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dilarang pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat patriotisme kebangsaan untuk berjuang melawan penjajah menuju kemerdekaan.

Pada masa itu, di Mandar “Merah Putih” hanya terlihat diikatkan di kepala para pemuda dan pemudi sebagai tanda bahwa mereka adalah para pejuang yang tergabung dalam sebuah organisasi pejuang bawah tanah secara berkelompok. 

Akan tetapi sebelumya, pada tahun 1942 awal kedatangan tentara Jepang di Mandar, bendera Merah Putih pernah dikibarkan. Ketika itu  H.A.Depu sedang berpidato dalam sebuah rapat Raksasa pada peringatan hari sumpah pemuda di Tinambung (Balanipa), yang dihadiri oleh semua Raja dan para Pemangku Adat dan Hadat di Pitu Ba’bana Binanga, serta ribuan rakyat Mandar lainnya.

Dalam pidatonya, H.A.Depu menutup dengan ucapan Mua’ sawa Namardekai tau anna iyya Namewawa tama di Naraka oh… Puang Mala’biu, Buayyimmi Naraka batuammu, anna iyaupa Puang Meondong Mettama dinarakamu. E.. luluare iyya nasangna iyyamo tu’u dio pendiriannu’o “ (kalau pun berjuang untuk kemerdekaan ini yang akan membawa kita kedalam neraka, wahai Tuhanku yang maha mulia, tolong buka kan neraka-Mu untukku. Biar  aku sendiri yang akan melompat kedalamnya. Wahai saudaraku sekalian itulah pendirianku).

Pada tahun 1944 H.A.Depu kembali memimpin pengibaran Bendera Merah Putih di Tomadzio (Campalagian),dihadiri oleh ribuan rakyat, serta para pemuda dan pemudi yang datang dari semua penjuru wilayah kekuasaan Mara’dia Tomadzio.  Kemudian pada saat itu (tahun 1944) lagu “Indonesia Raya” dan “Bendera Merah-Putih” diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 9 Ramadhan 1364 H.  Hari itu pukul 10.00 WIB  di Jalan Pegangsaan Timur 56  Jakarta Pusat, Ir. Soekarno dan Drs.Moh.Hatta membacakan test Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera merah-putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945.  Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.

Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia oleh badan dunia. Berita proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia segera diketahui oleh para pemuda di Mandar. Di Balanipa, berita proklamasi diterima oleh Ibu Agung H. Andi Depu dan Riri Amin Daud pada hari minggu 19 Agusts 1945 melalui Mysta taico, kapten AD Jepang untuk daerah Afdeling mandar. Di majene, ibukota afdeling mandar, berita proklamasi diterima melalui siaran Radio Australia dalam bahasa Inggris dan kemudian menyusul siaran dalam bahasa Arab dari Radio di Kairo Mesir.

Dengan berita tersebut, secara spontanitas rakyat menyambut proklamasi dengan pengibaran bendera dimana-mana. Proklamasi merupakan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia yang ingin lepas dari belenggu penjajahan. Di afdeling Mandar, sang Merah Putih dikibarkan dibeberapa tempat, diantaranya di Majene, Balanipa, Campalagian, Polewali, pamboang dan mamuju.

Bahkan, terjadi perampasan senjata Jepang dibeberapa tempat,seperti di Matangnga dan Tompotora (Mamuju). Di pambusuang terjadi peristiwa pembunuhan terhadap tentara Nippon yang tidak mau menyerahkan senjatanya.

Untuk mengerahkan dan mengkoordinasikan semangat patriotisme rakyat Mandar, pada tanggal 21 Agustus 1945, RA. Daud dan AR. Tamma mempelopori berdirinya badan pergerakan KRIS  Muda. KRIS Muda adalah lanjutan dari organisasi Islam Muda yang berdiri di Campalagian menjelang berakhirnya kekuasaan Nippon (Jepang) di Indonesia.

Setelah terbentuknya organisasi Kelaskaran Kebangkitan Rahasia Islam Muda Mandar (KRIS Muda Mandar),lalu bendera merah putih diikatkan pada ujung  laras senjata dan pada ujung senjata bambu runcing para pejuang.

Dan untuk pertama kalinya bendera Merah Putih dikibarkan di Tinambung, depan Istana Kerajaan Balanipa, dengan tiang yang berukuran 9 meter. Bendera Merah Putih dikibarkan sejak Kamis,19 september 1945. Peristiwa pengibaran bendera tersebut adalah sebuah bukti sejarah di Mandar, yakni satu satunya bendera di Sulawesi yang tidak tumbang oleh keganasan Pasukan Westerling. (***)

 

               

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: